DMBET99 | Bandar taruhan online terbesar|Bandar taruhan online terlengkap| Bandar casino terbesar
Agen Poker BandarQ Online ituPoker
Bandar Poker Sakong BandarQ Online
Agen Poker BandarQ Online ituPoker

Go Back   Forums > Pojok Lendir > Indonesia xxx > Cerita seru

Live Casino Sbobet Online Judi Poker Domino 99 ituQQ Agen Judi Poker Domino99 dan Ceme Online Indonesia Situs Sbobet Online Judi Poker Domino 99 itucasino Texaspoker Wigobet AFAPOKER RGOBET
Reply
 
Thread Tools Display Modes

  #1  
Old 10-08-2015, 08:50 PM
Mienote Mienote is offline
Senior Member
 
Join Date: Oct 2015
Posts: 1,036
Mienote is on a distinguished road
Default Kugauli istri anak buahku

usiaku yang ke-29, sebenarnya aku cukup bahagia dengan kondisi perekonomian, karirku diusiaku yg segitu aku udah menduduki posisi dept. head. Materi pun cukup. Tapi entahlah, keinginanku untuk merasakan nikmatnya bermain seks dengan wanita lain tidak pernah pudar. Bukan hanya aku saja, hampir semua temanku yang berjenis kelamin lelaki juga melakukannya, mungkin sudah kodratnya kali ya..? Hanya saja aku tidak berani main di lokalisasi (wanita jalanan), karena takut tertular AIDS.

Paling sering aku main dengan rekan kerjaku, apa lagi kalau statusnya janda. Wah pasti deh aku kejar terus. Nah, kali ini aku mau bagi pengalamanku yang pertama kali dengan seorang gadis yang bukan perawan dengan status istri bawahanku. Namanya Faizah, tubuhnya proporsional, tinggi sekitar 165 cm anggun di balut dengan J****B dan baju terusan panjang. aku mengenalnya lewat suatu family gathering di dept yg aku pegang

Sebagai bawahanku langsung suaminya sebut saja wanto, mau tidak mau aku jadi sering berhubungan dengannya apalagi wanto terlihat seorang yang ambisius akan jabatan meski kualitas kerjanya biasa aja, singkat cerita pada suatu hari wanto mengahadap ke ruanganku stelah office hour telah bubar dan tebakanku nga meleset kalau ngak minta kenaikan jabatan pasti salary increment tetapi saat itu di minta 2 hal tsb secara bersamaan akhirnya akupun menjanjikan 2 hari kedepan aku kasih kabar dia, busyetttttt dahh..neh orang bener2 selama 2 hari itupula aku berfikir apa alasan yang tepat untuk tidak mensetujui permintaannya, namun tiba2 terlintas di benaku akan istri si wanto yang sempat menarik perhatianku meski udah pernah kebuang jauh-2 pikiran itu. Akhirnya niat dan muslihatku timbul lagi untuk bisa merasakan si Faizah istri bawahanku yang haus akan harta dan jabatan dan akhirnya dengan sebuah bahasa kiasan “saya bisa setujui semua permintaan kamu asal istri kamu bisa menyakinkan saya bahwa kamu layak tuk hal itu kamu jelasiin sejelas-jelasnya maksud saya ke dia” sembari saya kedipkan 1 mata ke dia “kamu taukan maksud saya” dan diapun dengan senyum menjawab siap Faizah” dan selanjutkan kita bekerja seperti biasa tanpa menyinggung hal tsb dalam benakku tidak mungkin berhasil namun tanpa disangka 3 hari kemudian di menghadap ke aku sambil konfirmasi kalau istrinya besedia bertemu saya untuk hal tsb, perasaan saya waktu tuh campur aduk nga karuan pada akhirnya aku sms si wanto untuk kasih alamat sebuah hotel mewah kawasan kuningan

Meskipun kelihatannya jinak, tapi namaFaizahnya Faizah sulit sekali ditaklukkan dan akhirnya kita bertemu di hotel dengan balutan gaun malam longgar berkasen batik dipadu dengan J****B warnu unggu namaFaizah anggun dan menawa istri si wanto ini selamat malam pak(meski dia lebih tua dari saya) dan akhirnya kita menuju resto yg ada di hotel tsb dan lanjut makan malam sambil basa-basi. Itu pun sepertinya dia basa-basi saja, mungkin karena aku atasan suaminya, jadi dia agak senggan menolak. Meskipun dia mengetahui tujuanku mengundangnya, akhirnya dengan alasan biar enak ngobrolnya saya ajak naik aja ke room yg udah gw pesan sebelumnya

Di dalam kamar tersebut yang remang-remang, dia menangis di dadaku tanpa terucap satu patah katapun. Aku mengusap kepalanya yg terbungkus J***B warna ungu, perlahan kukecup keningnya, dan terus matanya. Faizah terpejam menikmati kecupanku dan bibir sensualnya terbuka, mengundangku untuk melumatnya. Dengan penuh gairah, kulumat perlahan bibirnya. Lidahku menerobos menelusuri rongga mulutnya yang harum.
"Faizah..? Kenapa..?" Faizah bertanya saat aku melepaskan pagutan bibirku.
Kupandangi bola matanya yang indah entah apa yg ada dalam benak pikirannya.
Faizah memelukku tambah erat. Dan Faizah sudah pasrah berada di pelukanku, namun aku masih bersabar meskipun senjataku sudah membengPak dan mengeras. Aku ingin menguasai seluruh perasannya dulu.

Aku lihat pergelangan tanganku, memang baru jam 9 malam, tapi aku masih ingat ingat kalau di itu istri sah bawahanku di kantor " Faizah mau kemana lagi neh..?"
"Pokoknya malam ini, Faizah mau menghabiskan waktu bersama pak."

"Sudahlah, jangan dibicarakan lagi, yang penting kita nikmati malam ini bersama, ok..?"
"pak, 'ingin' ya..?"
"Ingin apa..?"
"Nggak tau ah..!"
Aku mencubit hidungnya, kami bercanda penuh kemesraan. Tapi aku masih bertahan dengan nafsuku, aku hanya mengajaknya bercengkrama.

Tidak terasa 2 jam sudah kami berada di kamar hotel tanpa ada kejadian apa-apa.
Sampai akhirnya, "pak, tidak ingin bermesraan dengan Faizah..?" katanya sambil memelukku.
Kulihat kali ini mimik wajahnya serius.
"Aku ingin sekali, Faizah, Tapi Aku takut Kamu belum menerima saya."
"Lakukanlah pak, Faizah rela demi bakti Faizah ama mas wanto
Aku terharu mendengarnya, dan tanpa buang waktu lagi, kupeluk tubuhnya erat, Dua buah gunung kembarnya terasa mengganjal di dadaku menghantarkan aliran gairah yang bergejolak. Senjataku langsung mengeras dan membesar.

Dengan penuh perasaan, kuciumi seluruh wajahnya yang manis. Faizah membalasnya dengan penuh gairah. Bibir kami saling melumat dan menghisap. Tanganku mulai beraksi meremas buah dadanya, mengusapnya lembut. Faizah pun balas meremas senjataku. Sambil terus berciuman, satu persatu pakaian aku mulai dengan melepas pin yang ada pin yang ada Di J****B Faizah dan lanjut ke gaun panjang nan longgornya dan tidak lama kemudian seluruhnya terlepas dan terhempas ke lantai. Kini kami hanya menyisakan celana dalam saja. Aku segera melepaskan penutup terakhir tubuh Faizah, dan Faizah pun tidak mau kalah melepas penutup terakhir tubuhku.
"Oh.., Gede sekali pak, Faizah takut..!"
"Memangnya punya si wanto..?"
"Paling separohnya..!"
Meskipun diucapkan dengan nafas memburu dan wajah yang sedikit memerah menahan gairah, tapi dalam hatiku sempat berpikir bahwa senjata suami Faizah termasuk kecil. Tapi dalam kondisi begini aku tidak mau banyak berpikir, masa bodoh saja.

Dalam keadaan tanpa sehelai benang, kami terus saling memberikan rangsangan ke titik-titik gairah yang membakar. Kurebahkan tubuh sintal Faizah ke ranjang, kupandangi tubuhnya yang indah. Buah dadanya yang mencuat menantang, dan kulitnya yang ditumbuhi bulu halus, apalagi bulu kemaluannya sangat rimbun berjejer rapih seperti barisan semut sampai ke pusarnya membuatnafsuku semakin memuncak. Segera lidahku mulai menelusuri lehernya yang jenjang, buah dadanya yang sangat montok kucium dengan lembut. Putingnya yang masih kecil dan agak merah kuhisap dan kujilat kadang kugigit pelan.
"pak..! Terus.. pak..!" Faizah mulai meracau pertanda birahinya sudah naik.
Aku semakin semangat, seluruh lekuk tubuh Faizah tidak ada yang lolos dari jilatan lidahku.
Melewati perutnya yang ramping, kusibakkan bulu kemaluannya yang lebat, dan lidahku mulai asyik menjilati klitorisnya, kadang menerobos lubang kemaluannya. Faizah semakin mengerang nikmat, rambutku diremas kuat saat klitorisnya kuhisap lembut.
"Sudah Pak.., Faizah tidak tahan..!"
Tetapi aku masih belum puas menikmati keindahan tubuh Faizah. Lidahku semakin asyik bermain di liang senggama Faizah. Kumasukkan satu jariku ke dalam kemaluan Faizah, sementara lidahku terus menjilati klitorisnya. Jari-jariku berputar mencari titik g-spot. Tanganku yang lain asyik meremas buah dadanya dan memilin-milin putingnya sampai mencuat keras. Seluruh tubuh Faizah meliuk-liuk menahan kenikmatan yang kuberikan.

Setengah jam aku bermain dalam pemanasan, hingga akhirnya tubuh Faizah mengejang Paku dan berteriak panjang melepas orgasmenya yang pertama. Faizah diam sejenak, mungkin menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dialaminya. Tetapi tidak lama, Faizah berdiri dan mendorong tubuhku hingga telentang di kasur.
"PaPak curang, Faizah mau balas..!"
Dengan lincahnya Faizah menelusuri tubuhku dengan lidahnya yang hangat. Sekarang aku yang mendesah tak karuan, apalagi dengan pandainya Faizah menjilati puting dadaku. Dihisapnya pelan dan kadang digigit, sementara tangannya dengan lembut mengocok senjataku yang kian membengkak dan mengeras.

"Faizah, Aku sudah tak tahan..!"
Tetapi sepertinya Faizah tidak peduli, kini senjataku sudah berada di dalam mulutnya yang mungil, sementara jari-jarinya tetap mengelus-ngelus dadaku dan menjentik puting dadaku, membuat seluruh aliran darahku bergejolak menahan kenikmatan yang luar biasa. Tanganku dengan gemas meremas pinggul dan pantat Faizah yang semlohai, buah dadanya juga terus kuelusdan kupilin putingnya, hingga nafsunya kembali bangkit dan langsung menduduki senjataku yang sudah basah oleh pelumas. Jari-jarinya membimbing senjataku memasuki kemaluannya. Berapa kali sudah senjataku meleset dan mengenai pantat Faizah yang bahenol, dalam posisi begini memang agak sulit, apalagi punya Faizah masih rapat, jari-jariku saja masih terjepit oleh dinding kemaluannya.

"Pak di atas deh..!" akhirnya Faizah menyerah.
Kubuka paha Faizah lebar-lebar, bulu kemaluannya yang sangat lebat kusibakkan ke samping, dengan perlahan senjataku kugosok-gosokkan di klitorisnya. Faizah yang tidak sabar langsung saja memegang senjataku dan mengarahkannya.
"Tekan Pak..!"
Aku segera memajukan pinggulku sedikit, "Blesshh..!"
"Achh.." Faizah menjerit saat kepala senjataku terbenam.
"Kenapa Sayang..? Sakit..?" aku kuatir Faizah kesakitan.
Faizah hanya menggeleng dan semakin erat memelukku. Jepitan kemaluan Faizah di senjataku sungguh luar biasa nikmatnya, benar-benar sesak membuat senjataku semakin membengPak dan mengeras.

Perlahan kumulai memompa, setengah senjataku masuk, kutarik kembali, begitu seterusnya. Sementara erangan dari mulut Faizah semakin tidak jelas, dengus nafas kami berdua sudah seperti lokomotif tua menahan kenikmatan yang kian menyerang tubuh kami. Gerakanku semakin cepat dan tidak beraturann.
"Oh.., Pakk.. nik.. mat..! Faizah mau keluar..!"
"Tahan Sayang..! Aku juga mau keluar.."
Akhirnya saat senjataku kusentakkan kuat hingga amblas sedalam-dalamnya, sekujur tubuh Faizah bergetar hebat, kedua tangannya menahan pantatku agar menusuk semakin dalam, kedua Pakinya yang mulus menjepit kuat puncakku.

"Aahh.. Pak.." Faizah sudah orgasme lagi.
Senjataku terasa hangat akibat semburan dari dalam kemaluan Faizah, sementara aku sendiri mencoba bertahan sekuat mungkin agar spermaku jangan sampai keluar dulu. Terjanganku semakin lambat, memberikan keleluasaan bagi Faizah untuk menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku diamkan sejenak senjataku di dalam kemaluan Faizah, menikmati denyutan-denyutan lembut di seluruh batangsenjataku.

"Pak.., Faizah puas sekali, mungkin ini yang namanya multi orgasme." Faizah mengerang lirih.
"Memang dulu biasanya ama wanto tak sepuas ini..?"
"Entahlah, sepertinya lain, Pak belum keluar ya..?"
"He.. eh..,"
"Kenapa..? Nggak enak, ya..?"
"Enggak, Aku hanya ingin memberikan kepuasan yang maksimal untuk Kamu..!"
"Tapi, Pak kan belum..? Ayo dong..! Keluarin..!" Faizah merengek manja.
"Kamu masih kuat..?" tanyaku.
"Hem..," Faizah mengangguk mantap.

Senjataku yang masih on di dalam kemaluan Faizah mulai kunaik-turunkan kembali, pelan tapi pasti, Faizah mulai terbawa nafsu kembali. Luar biasa, padahal Faizah sudah 2 kali orgasme, tapi dia masih ingin lagi, aku semakin semangat. Dan Faizah pun dengan lincah menggoyang pinggulnya mengimbangi tusukan-tusukan senjataku.

Setengah jam sudah berlalu, peluh sudah membasahi seluruh tubuh kami, berbagai gaya sudah aku lakoni, dan Faizah pintar sekali mengimbanginya. Apa lagi waktu doggy style, goyangan pantatnya sungguh nikmat sekali. Aku hampir tidak tahan. Aku segera membalikkan Faizah ke posisi konvensional, saling berhadapan, sambil terus menusuk, aku menghisap kedua buah dada Faizah yang montok. Putingnya yang sudah mencuat, kuhisap kuat-kuat. Faizah mengerang hebat, dan dia membalas dengan mengusap pula puting dadaku. Ternyata disinilah kelemahanku. Rasa nikmat yang kuterima dari dua arah, dada dan senjataku, membuat seluruh sumsumku bergetar hebat.

"Faizah.., Aku mau keluar.. Sayang..!"
"Bareng, Pak..! Ayoo lebih cepat..!"
Dengan menguras seluruh kemampuanku, aku terus mempercepat tusukanku. Senjataku rasanya sudah menggembung menahan sperma yang akan muncrat. GeraPak pantatku sudah tidak beraturan lagi, hingga akhirnya, saat tusukanku semakin keras, dan puting dadaku dipilin keduanya oleh jari Faizah, aku melepaskan puncak orgasmeku.
"Achh..! Aku keluar Sayang..!"
Muncratlah spermaku di dalam kemaluan Faizah. Rasa hangat di dalam kemaluan Faizah. Akhirnya bisa membuat orgasme Faizah yang ketiga kalinya. Kuku-kukunya menancap keras di pundakku dan tubuhnya mengejang Paku.
"Achh..!" Faizah menjerit keras seiring dengan gerakan pinggulku yang terakhir.
Yah.., kami orgasme bersamaann.


Faizah merebahkan kepalanya di dadaku.
Aku hanya membelai rambutnya. Jam sudah menunjukan pukul 02:00 pagi. Kami tidur berpelukan sampai pagi.

Memang sejak saat itu hubungan kami bagai suami istri, dan posisi wantopun segera meroket dengan campur tanganku Gosip bertebaran tidak karuan. Kadang Wanto stress memikirkannya, tapi jabatan dan gaji membuat dia bertahan dalam kecuekan.
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump



All times are GMT +7. The time now is 03:51 AM.


: :
Powered by vBulletin® Version 3.8.9
Copyright ©2000 - 2018, vBulletin Solutions, Inc.