DMBET99 | Bandar taruhan online terbesar|Bandar taruhan online terlengkap| Bandar casino terbesar
Agen Poker BandarQ Online ituPoker
Bandar Poker Sakong BandarQ Online
Agen Poker BandarQ Online ituPoker

Go Back   Forums > Pojok Lendir > Indonesia xxx > Cerita seru

Live Casino Sbobet Online Judi Poker Domino 99 ituQQ Agen Judi Poker Domino99 dan Ceme Online Indonesia Situs Sbobet Online Judi Poker Domino 99 itucasino Texaspoker Wigobet AFAPOKER RGOBET
Reply
 
Thread Tools Display Modes

  #1  
Old 12-21-2017, 03:08 AM
ceritabecek ceritabecek is offline
Junior Member
 
Join Date: Dec 2017
Location: Indonesia
Posts: 11
ceritabecek is on a distinguished road
Cool Kisah Kenikmatan Tubuh Para Perawat Di Bandung Bagian 1

Kisah Kenikmatan Tubuh Para Perawat Di Bandung Bagian 1 - Cerita Becek.


Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Bandung. Karena tugas kantorku, aku terpaksa tinggal di Bandung selama 5 hari dan weekend di Jakarta. Di kota kembang ini, aku menyewa kamar di rumah temanku. Menurutnya, rumah itu hanya ditinggali oleh Ayahnya yang sudah pikun, seorang perawat, dan seorang pembantu. "Rumah yang asri," gumamku dalam hati. Halaman yang hijau, penuh tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk oval. Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan. Sesosok tubuh semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum manisnya.

"Pak David ya...?"
"Ya..., saya temannya Mas Rudi yang akan menyewa kamar di sini."
"Lho, kamu kan pernah kerja di tetanggaku?," jawabku surprise.

Perawat ini memang pernah bekerja pada tetanggaku di Bintaro sebagai baby sitter.

"Iya, saya dulu pengasuhnya Cindy. Saya keluar dari sana karena ada rencana untuk kimpoi lagi. Saya kan dulu janda pak.., tapi mungkin belum jodoh.., ee dianya pergi sama orang lain.., ya sudah, akhirnya saya kerja di sini..,"

Mataku memandangi sekujur tubuhnya. Ratih (nama si perawat itu) secara fisik memang tidak pantas menjadi seorang perawat. Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam sebahu, buah dadanya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya yang bundar memandang langsung mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu.

Aku tergagap dan berkata, "Ee.., Mbak Ratih, Bapak ada?"
"Bapak sedang tidur. Tapi Mas Rudi sudah nitip sama saya. Mari saya antarkan ke kamar."

Ratih menunjukkan kamar yang sudah disediakan untukku. Kamar yang luas, ber AC, tempat tidur besar, kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku meletakkan koporku di lantai sambil melihat berkeliling, sementara Ratih merunduk merapikan sprei ranjangku. Tanpa sengaja aku melirik Ratih yang sedang menunduk. Dari balik baju putihnya yang kebetulan berdada rendah, terlihat dua buah dadanya yang ranum bergayut di hadapanku. Ujung buah dada yang berwarna putih itu ditutup oleh BH berwarna pink. Darahku terkesiap. Ahh, perawat cantik, janda, di rumah yang relatif kosong. Sadar melihat aku terkesima akan keelokan buah dadanya, dengan tersipu-sipu Ratih menghalangi pemandangan indah itu dengan tangannya.

"Semuanya sudah beres Pak, silakan beristirahat."
"Ee, ya.., terima kasih," jawabku seperti baru saja terlepas dari lamunan panjang.

Sore itu aku berkenalan dengan ayah Rudi yang sudah pikun itu. Ia tinggal sendiri di rumah itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu. Selama beramah tamah dengan sang Bapak, mataku tak lepas memandangi Ratih. Sore itu ia menggunakan daster tipis yang dikombinasikan dengan celana kulot yang juga tipis. Buah dadanya nampak semakin menyembul dengan dandanan seperti itu. Di rumah itu ada seorang pembantu berumur sekitar 17 tahun. Mukanya manis, walaupun tidak secantik Ratih. Badannya bongsor dan montok. Lina namanya. Ia yang sehari-hari menyediakan makan untukku. Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, aku sudah sangat akrab dengan orang-orang di rumah itu. Bahkan Lina sudah biasa mengurutku dan Ratih sudah berani untuk ngobrol di kamarku. Bagi janda muda itu, aku sudah merupakan tempat mencurahkan isi hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi hingga kadang-kadang Ratih merasa tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku. Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku, karena sedang suntuk memasang VCD porno kesukaanku di laptopku. Tengah asyik-asyiknya aku menonton tanpa sadar aku menoleh ke arah pintu, astaga, Ratih tengah berdiri di sana sambil juga ikut menonton. Rupanya aku lupa menutup pintu, dan ia tertarik akan suara-suara erotis yang dikeluarkan oleh film produksi Vivid interactive itu. Ketika sadar bahwa aku mengetahui kehadirannya, Ratih tersipu dan berlari ke luar kamar.

"Mbak Ratih...," panggilku seraya mengejarnya ke luar.
Kuraih tangannya dan kutarik kembali ke kamarku.
"Mbak Ratih, mau nonton bareng? Ngga apa-apa kok."
"Ah, ngga Pak, malu aku..," katanya sambil melengos.
"Lho.., kok malu.., kayak sama siapa saja.., kamu itu.., wong kamu sudah cerita banyak tentang diri kamu dan keluarga.., dari yang jelek sampai yang bagus.., masak masih ngomong malu sama aku?" kataku seraya menariknya ke arah ranjangku.
"Yuk kita nonton bareng..."

Aku mendudukkan Ratih di ranjangku dan pintu....

Baca Selengkapnya klik ---> Kisah Kenikmatan Tubuh Para Perawat Di Bandung Bagian 1
__________________
Baca Cerita Dewasa di Cerita Becek
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump



All times are GMT +7. The time now is 03:57 AM.


: :
Powered by vBulletin® Version 3.8.9
Copyright ©2000 - 2018, vBulletin Solutions, Inc.