LebahBola.Com
Agen Poker BandarQ Online ituPoker
Bandar Poker Sakong BandarQ Online
Agen Poker BandarQ Online ituPoker
Banner

Go Back   Forums > Pojok Lendir > Indonesia xxx > Cerita seru

Agen Judi Togel - Bandar Togel Online - Judi Lotto - Agen Toto Online Judi Poker Domino 99 ituQQ Agen Judi Poker Domino99 dan Ceme Online Indonesia Judi Poker Domino 99 itucasino
Reply
 
Thread Tools Display Modes

  #1  
Old 10-08-2015, 08:46 PM
Mienote Mienote is offline
Senior Member
 
Join Date: Oct 2015
Posts: 1,036
Mienote is on a distinguished road
Default Holiday’s Challenge 4: Riri, si Gadis Tukang Sampah

Tidak mau ambil pusing, Riri tidak memikirkan tantangan yang diberikan Lina. Riri benar-benar malas dengan liburan beda yang diusulkan Intan. Meski Riri tahu kalau Lina, Moniq, dan Intan sudah mendapatkan ‘tantangan’ pada liburannya, Riri sama sekali tak berniat mencari pekerjaan kasar yang akan dicobanya. Riri pergi makan ke sebuah restoran sendirian saja. Bukan restoran sebenarnya, hanya merupakan sebuah rumah makan saja. Kebetulan Riri datang di saat jam makan siang sehingga rumah makan itu cukup ramai. Kebanyakan orang-orang berpakaian rapih dan berdasi yang makan di restoran itu. Meski di sekitarnya banyak pegawai kantoran yang berpakaian rapih, Riri santai saja makan sendirian dengan kaos dan celana jeans pendek sampai lutut, dan memakai sandal. Riri memang orang yang tak ambil pusing dengan pandangan orang, lo lo gue gue, prinsip hidup Riri. Tapi, meskipun Riri orangnya cuek, sebenarnya dia orang yang mudah merasa iba, dan jika sudah cocok dengan seseorang, sikap Riri berubah menjadi ramah dan hangat ke orang tersebut.
“hai”, sapa seorang bapak-bapak.
“…”.
“boleh gabung ? tempatnya penuh semua..”.
“yaudah..”, jawab Riri singkat.
“makasih ya cantik…”, pria itu tersenyum licik. Riri pun meneruskan makan.
“nama kamu siapa ?”.
“Riri…”, jawab Riri tanpa menyalami tangan pria itu.
“kalo Om..Tio…”.
“kok kamu makan sendirian aja ?”.
“maaf ya, Pak !! saya bukan jablay !!!”, ucap Riri kencang sambil berdiri dan menggebrak meja.
Otomatis yang lain pun melihat Riri. Riri berjalan meninggalkan Om yang tertunduk dan salah tingkah karena malu. Sementara Riri berjalan keluar rumah makan sambil tersenyum, puas mengerjai Om nakal itu. Riri mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah, rumah milik Riri sendiri. Sebenarnya, keluarga Riri sudah pindah semua ke luar negeri, hanya Riri yang masih tinggal. Riri tidak mau pindah ke luar negeri karena tidak suka dengan ibu tirinya yang mengajak ayah dan adiknya tinggal di luar negeri. Ayah Riri pun tidak bisa berbuat banyak karena Riri memang keras kepala.
Setiap bulan, ayahnya mengirimi banyak uang ke rekening Riri untuk biaya hidup Riri.
“eh non Riri udah pulang..”.
“iyaa mbok…Riri mau istirahat ya mbok…”.
“iyaa, non…”. Hanya Mbok Ratih saja yang menemani Riri sehari-hari. Tapi, Mbok Ratih pulang pergi, tak tinggal bersama Riri.
“non..non Riri…”, Mbok Ratih menggoyang-goyang tubuh Riri pelan.
“em..i..iya..ada apa ?”, jawab Riri setengah sadar.
“non Riri..Mbok Ratih pulang dulu ya..udah malem..”.
“oh iyaa, Mbok…hooahhmm..”, ujar Riri sambil mengucek-ngucek matanya. Riri pun turun dari ranjang dan mengikuti Mbok Ratih sampai ke pintu depan. Riri mengunci pintu depan setelah Mbok Ratih pulang seperti biasanya.
“haah..nggak ada temen buat keluar..”, ujar Riri.
Biasanya, malam hari Riri sering jalan-jalan bersama 3 sahabatnya atau setidaknya main ke rumah mereka, tapi karena Intan, Lina, dan Moniq sudah memulai liburan mereka, Riri jadi bingung harus kemana. Meski punya teman yang lain selain 3 sahabatnya, Riri hanya nyaman bersama 3 temannya. Riri pergi ke mandi, menyegarkan tubuhnya sekalian mengganti pakaiannya. Riri akhirnya memutuskan untuk menonton film dengan dvd playernya saja. Mungkin sampai 2 film yang dia tonton sebelum akhirnya mengantuk dan tidur lagi.
“hoaammm…nymmm…”, Riri menguap dan ngulet sehabis bangun tidur. Gara-gara terlalu cepat tidur, Riri jadi terlalu pagi bangunnya. Baru jam setengah 6 pagi, Riri mengganti pakaiannya, dia berniat untuk lari pagi di taman dekat rumahnya. Riri mulai berlari-lari kecil menuju taman yang ada di dekat rumahnya.
“suit-suit…neng, mau lari pagi yaa ?”, goda seorang om-om.
“lari pagi bareng om aja, gimana ?”, pria itu pun berlari-lari kecil mengikuti Riri. Riri tidak menjawab, dia hanya mempercepat larinya. Mau tak mau, pria itu harus mempercepat lajunya juga. Riri yang terbiasa lari pagi sama sekali tak berasa, sedangkan pria yang gendut itu sudah ngos-ngos dan berhenti mengejar Riri. Riri hanya menengok ke belakan dan tersenyum mengejek ke pria itu.
Dasar bandot gembrot, sok-sokan ngegodain, lari dikit aja langsung ngos-ngosan, komentar Riri. Matahari semakin tinggi, pagi pun semakin cerah.
“hufh hufh hufh”, Riri berusaha mengatur nafasnya sambil sesekali melap keringat dari wajahnya dengan handuk kecilnya. Hampir 1 1/2 jam Riri lari pagi tanpa beristirahat, paling-paling dia hanya memperlambat larinya sambil mengelap keringatnya yang bercucuran. Riri pun menuju warung untuk membeli minuman.
“segeerr…”. Riri melihat ada seorang bapak-bapak sedang mengaduk-aduk bak sampah yang ada di depan rumah orang. Penampilannya begitu lusuh, dan bapak itu kelihatan tua. Setelah memasukkan beberapa sampah ke gerobaknya, bapak itu mengambil botol minumannya. Botol itu sudah tak ada isinya, si bapak menghela nafasnya, padahal dahaganya benar-benar menyiksa, tapi tak ada air lagi. Riri yang memperhatikan dari tadi langsung membeli minuman dan berjalan mendekati bapak itu.
“maaf, Pak…”.
“iya, neng ? ada apa ?”, tanya bapak itu kebingungan didatangi seorang wanita cantik.
“ini, Pak..diminum minumannya..”.
“nggak usah, neng…”, tolak bapak itu dengan sopan dan halus.
“nggak apa-apa, Pak…minum aja, tadi saya liat bapak keausan, yaudah saya beliin aja…”.
“bener buat saya, neng ?”.
“bener, Pak…”, jawab Riri tersenyum. Riri dan bapak itu pun duduk di tepi jalan.
“makasih banyak, neng…bapak gak tau harus bilang apa…”.
“ya gak usah bilang apa-apa, Pak..hehe..”, canda Riri.
“tapi, kenapa neng beliin saya minuman ?”.
“kan udah saya bilang tadi, saya liat bapak keausan ya saya beliin aja minuman..”.
“makasih banyak ya neng..”.
“Bang !! sini, Bang !!”. Tukang bubur yang tadi dipanggil Riri pun mendekat.
“Bapak udah sarapan ?”.
“belum, neng..”.
“kalo gitu kita sarapan bubur yuk, Pak…”.
“ha ? gak usah, neng…saya udah biasa nggak sarapan…lagian masa udah dibeliin minuman..neng mau beliin saya bubur..saya bener-bener nggak enak ama neng..”.
“ayo dong, Pak..temenin Riri sarapan..”.
“…”.
“nih, Pak..”.
“yaudah deh, neng…”.
Sebenarnya, bapak itu memang lapar sekali, tapi dia sungguh enggan menerima pemberian dari orang yang baru dikenalnya. Enggan karena selama ini, tak ada yang sebaik ini kepadanya, malah banyak yang jijik dan mencemoohnya, tapi kenapa gadis cantik ini begitu baik kepadanya. Tentu tak ada rasa curiga di pikiran bapak itu, tak mungkin gadis cantik ini mau berbuat jahat, lagipula tak ada sesuatu dari diri bapak itu yang bisa di ambil. Sambil sarapan, mereka berdua mengobrol dan saling memperkenalkan diri. Nama bapak itu adalah Malih, umurnya 58 tahun, penampilannya kelihatan lebih tua daripada umurnya. Tukang bubur itu keheranan, kok ada cewek cakep mau sarapan ama tukang sampah, di pinggir jalan lagi, pikir tukang bubur itu. Sekali-sekali, tukang bubur itu curi-curi pandang ke Riri. Cantik dan sangat putih mulus, benar-benar idaman lelaki. Setelah dibayar, tukang bubur itu pun pergi.
“gimana, Pak ? kenyang nggak ?”.
“kenyang, neng…enak banget..”. Riri pun tersenyum.
“saya bener-bener makasih ya neng Riri, udah beliin saya minuman ama sarapan..”.
“iya, Pak..sama-sama..”.
“kenapa neng Riri baik banget sama saya ?”.
“kalo ngeliat bapak, saya jadi inget sama kakek saya..”.
“emang kakek neng Riri kemana ?”.
“udah meninggal 2 tahun lalu…”.
“maaf neng, saya nggak tau..”.
“nggak apa-apa, Pak…saya bener-bener kaget pas ngeliat bapak, mirip sama kakek saya, saya kira lagi mimpi..”.
“udah neng, jangan sedih lagi. kakek neng Riri pasti seneng ngeliat cucunya baik sama orang lain..”, Malih mau merangkul, tapi takut Riri marah.
“makasih, Pak…”.
“mendingan neng Riri saya anter pulang, gimana ?”.
“iyaa, Pak…”. Riri berjalan di samping Malih yang menarik gerobak sampahnya.
“makasih ya, Pak..udah nganterin saya sampai rumah..”.
“justru saya yang makasih, neng. neng Riri udah beliin saya minuman ama sarapan..”.
“iyaa, sama-sama, Pak…”, Riri tersenyum manis.
Di antara 3 temannya, Riri yang paling sensitif perasaannya. Sensitif maksudnya perasa atau mudah merasa kasihan dan juga mudah sedih. Bagi Riri, perasaannya yang sensitif merupakan kelemahan yang bisa saja dimanfaatkan teman-temannya yang cowok untuk mendapatkan hatinya, jadi Riri menyembunyikan kelemahannya dengan sikap sok cuek dan seenaknya sehingga cowok-cowok tak banyak yang mendekatinya karena Riri dianggap judes.
“saya masuk ke dalem dulu yaa, Pak..”.
“makasih banyak yaa, neng..”.
“sama-sama, Pak…”. Riri masuk ke dalam rumah dan mandi.
“kriiing !!!”, Riri keluar kamar dengan terburu-buru.
“halo ?”.
“halo non Riri ?”.
“Mbok Ratih, ada apa ?”.
“ini non, saya mau pulang ke kampung, jadi saya nggak bisa bantu-bantu non..”.
“berapa lama, Mbok ?”.
“ya mungkin 2-3 mingguan kali non..”.
“oh yaudah Mbok..tapi kalo bisa jangan lama-lama ya Mbok..”.
“iya, non..”. Riri masuk ke dalam kamar lagi dan mengenakan pakaian. Dia memikirkan si bapak tukang sampah tadi. Sudah tua tapi masih sanggup bekerja keras, di ajak ngobrol juga enak. Riri jadi ingin tahu kehidupan sehari-hari bapak tadi, lagipula kemungkinan besar dia bosan di rumah.



Riri keluar rumah berniat mencari Malih. Pas sekali, Riri baru keluar pagar rumah, dia melihat Malih di ujung gang.
“Pak Malih !!”. Malih berhenti dan menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari siapa yang memanggil namanya.
“Pak Malih !!”. Malih langsung nengok ke belakang.
“eh neng Riri..ada apa manggil saya ?”.
“gini, Pak…saya baru inget, saya ada tugas, cari tau kehidupan sehari-hari orang-orang seperti bapak, tadinya saya males ngerjain tugas, nah mendingan saya nyari tau kehidupan Pak Malih aja, gimana, Pak ?”.
“mm..boleh aja sih, neng..tapi emangnya tugasnya neng Riri kayak gimana ?”.
“yaa kehidupan sehari-hari Bapak aja..ntar saya rekam pake handycam..”.
“yaudah, neng..”.
“oke, tunggu bentar ya, Pak..”.
“…”. Lumayan lama Malih menunggu Riri kembali.
“neng Riri ngapain, lama amat..”, ujar Malih. Riri pun kembali dengan membawa tas yang biasa di bawa untuk kuliah.
“neng Riri abis ngapain ?”.
“ini, Pak..saya ambil handycam, dompet, sama pakaian..”.
“pakaian ? buat apa, neng ?”.
“ya buat ganti baju, kan saya mau tinggal di rumah bapak 4-5 hari..”.
“ha ? neng Riri mau tinggal di rumah saya ?”.
“iya, Pak..Bapak keberatan ya ?”.
“bukan gitu, neng…rumah saya gubuk, lagian apa orang tua neng Riri gak khawatir nanti ?”.
“orang tua saya lagi di luar negeri, nah soal rumah bapak, justru tugas saya tuh untuk cari tau sisi lain dari kehidupan..gimana, Pak ? boleh ya ?”.
“yaudah, neng..boleh, mudah-mudahan neng Riri ntar gak kaget ngeliat rumah saya..”.
“tenang aja, Pak..oh iya, Pak..boleh naro tas di sini nggak ?”, ujar Riri sambil menunjuk paku yang mencuat dari pinggir gerobak sampah.
“boleh aja neng..tapi ntar tas neng Riri kotor ?”.
“nggak apa-apa, Pak..kotor ya tinggal di cuci ini..”, canda Riri yang membuat Malih tersenyum.
“neng Riri mau ngapain ?”.
“saya bantu dorong gerobaknya, Pak…”.
“nggak usah, neng..saya udah biasa..udah neng, gak usah..”.
“gak apa-apa, Pak..saya pengen bantu..kayaknya berat banget..”.
“tapi ntar tangan neng kotor ?”.
“nggak apa-apa, Pak..tenang aja..”.
Malih menarik, dan Riri mendorong. Gerobak sampah itu terasa lebih ringan dari biasanya bagi Malih. Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di tempat seperti tempat pembuangan akhir.
“neng Riri tunggu di sini bentar..”, ujar Malih sambil menyerahkan tas Riri.
“iya, Pak..”. Malih kembali tak bersama gerobaknya.
“lho ? gerobaknya mana, Pak ?”.
“ya ditaro di sini, neng..sekalian minta bayaran..”.
“oh gitu..”. Riri tidak bertanya berapa bayaran yang didapat Malih karena tidak sopan meskipun Riri sebenarnya penasaran.
“nah sekarang baru kita pulang, neng..”.
“ayo deh, Pak..”. Riri pun mengobrol dengan Malih selama perjalanan pulang.
“Lih siape tuh ? cakep banget ?”, tanya seorang bapak gendut.
“ini anaknye temen gue..”, jawab Malih sekedarnya sambil lalu bersama Riri.
“tadi siapa, Pak ?”.
“yang tadi ? namanya Pak Sueb, ati-ati, neng..disini banyak bapak-bapak iseng..apalagi neng Riri cakep..”.
“ah Pak Malih bisa aja…”. Malih dan Riri berhenti di depan sebuah rumah kecil, atau lebih tepatnya gubuk sederhana.
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump



All times are GMT +7. The time now is 08:53 AM.


: :
Powered by vBulletin® Version 3.8.9
Copyright ©2000 - 2018, vBulletin Solutions, Inc.